Wednesday, June 24, 2015

Penulis itu seperti apa?

"Bila engkau mengetahui rahasia besar seseorang yang menulis, niscaya kamu (mungkin) tidak ingin menjadi sepertinya. Sehebat apapun tulisan yang ia buat. Karena untuk menulisnya, ia mungkin harus merasakan sesuatu yang berat-yang membuatnya hancur berantakan-atau mungkin menjadi kepingan. Engkau belum tentu kuat dan mau merasakan semua itu.

Karena apa yang tampak dalam tulisannya adalah hasil perenungannya yang panjang, pemahaman bertahun yang menghabiskan air matanya. Dan engkau sama sekali tidak melihat semua itu. Karena semua itu telah terpendam dalam waktu yang tidak akan bisa dikembalikan. 

Engkau ingin menjadi sepertinya. Padahal ia berharap bisa mengalami hidup normal sepertimu. Ia berharap hidupnya baik-baik saja. Tanpa harus sedemikian rupa. 

Kalau engkau membaca kisahnya dan terkagum pada apa yang kamu baca. Sesungguhnya kamu tidak sedang membaca apa yang dia alami, tapi apa yang dia inginkan. Kamu tidak sedang membacanya dirinya hari ini, tapi harapannya di masa datang. 

Karena ia sedang berusaha keras bertahan dengan harapan yang dia ciptakan sedikit demi sedikit bertahun lamanya. Jangan patahkan dengan pujian."--Kurniawan Gunadi

                                          - - - - -

Demikianlah, tiap-tiap penulis punya kisahnya tersendiri. Mengapa dan apa yang mendorongnya untuk menjadi seorang penulis mungkin di sebabkan oleh perkara-perkara yang pernah di alaminya. Dalam hidup ini, banyak perkara yang tak terucap oleh kata bagi sesetengah orang, lantas ada yang memilih untuk mencoretkannya di atas kertas sahaja, itu lebih bahagia baginya.

Tulisan, dalam bentuk apapun baik puisi, cerpen, catatan peribadi, prosa, novel atau apa-apa sahaja yang terkait berkenaan penulisan, ia punya cerita sendiri mengapa tulisan itu lahir. Bergantung kepada apa yang penulisnya rasakan pada saat dia duduk di meja tulisnya pada waktu tengah malam, sesudah subuh, sementara menunggu senja berlabuh atau bila-bila masa sahaja dan di mana sahaja dia berada. Kerana ilham itu sering datang pada saat-saat yang tak terduga.

Boleh jadi tulisan itu lahir pada saat penulisnya sedang menangis sendirian di kamarnya atau tempat-tempat yang sunyi, setelah menghadapi satu ujian kehidupan, menghadapi kehilangan orang tersayang, gagal dalam percintaan atau apa sahaja, semuanya itu boleh terangkum dalam satu tulisan yang akan dibaca oleh para pembacanya kelak. Tapi mereka (para pembaca) itu tidak pernah tahu seperti apa keadaan penulisnya pada saat dia menyusun abjad-abjad tadi menjadi sepotong ayat, perenggan, bab lalu menjadi senaskah buku. Dengan airmata yang bergenangan barangkali? Namun, para pembacanya akan turut merasakan kesedihan atau kegembiraan yang dialami oleh seseorang penulis itu. Kerana ada syair/pepatah lama yang mengatakan; Ja'a mina'l qalbi fadakhala'l-qulub (Datang dari sukma, menyelinap ke dalam sukma juga.)

Tulisan, seperti juga halnya puisi, menurut Gibran adalah kata sepakat antara sukacita dan dukacita dan ketakjuban disertai oleh sekelumit perbendaharaan kata.

Menurutnya lagi, puisi adalah nyanyian yang lahir dari kepedihan luka atau senyuman di bibir.

Hal ini semuanya menuntut seorang penulis itu mengabadikan apa yang dia rasai di dalam setiap tulisannya. Dan memang ternyata, karya yang lahir dari pengalaman penulis itu sendiri lebih mengasyikkan bagi kita sebagai pembaca dan memberikan kesan yang mendalam untuk kita renungi dan memperolehi pengajaran daripadanya. Ini yang membuatkan para penulis itu 'terus hidup' walaupun mereka telah lama pergi, tetapi mereka 'tetap hidup' di hati orang-orang kerana karyanya itu yang abadi sepanjang zaman menjadi sebutan ramai.

Orang-orang yang menulis, kata Guruh Nusantara, adalah orang-orang yang berani berlatih jujur kepada diri sendiri. Sementara orang-orang yang membaca adalah orang-orang yang berlatih memahami kejujuran orang lain.

Lebih kurang begitulah. Maka, buat para penulis, teruskan menulis! Kerana kata Pramoedya Ananta Toer, "Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tak menulis, maka ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah."

Katanya lagi, "Menulis adalah pekerjaan untuk keabadian!"

Buat para pembaca, selamat memahami kejujuran orang lain melalui tulisan, teruskan membaca dan mengambil ibrah daripadanya. Kerana dari seorang pembacalah nanti akan lahirnya seorang penulis agung. Bak kata Pak A Samad Said, sekiranya ingin menulis, maka membaca, membaca, membaca dan membaca lalu kemudian barulah menulis.

Sekian, salam buat para pencinta tulisan dan kata-kata!

Monday, June 1, 2015

Heal // Tom Odell




"Take my mind
And take my pain
Like an empty bottle takes the rain
And heal, heal, heal, heal

And take my past
And take my sense
Like an empty sail takes the wind
And heal, heal, heal, heal

And tell me somethings last
And tell me somethings last

Take a heart
And take a hand
 Like an ocean takes the dirty sand
And heal, heal, hell, heal

Take my mind
And take my pain
Like an empty bottle takes the rain
And heal, heal, hell, heal

And tell me somethings last."

Heal // Tom Odell

- - - - - -
 
“All your pain, worry, sorrow will someday apologize,
and confess they were a great lie.” --Hafez 

I hope so.

Sunday, May 24, 2015

A guy who reads.


"Date a guy who reads. He will not judge you from your appearance since he knows full well the term “don’t judge the book by its cover”. He sees through the worst of you and doesn’t look for kindness or courtesy, just as he understands that great books always have somewhat bizarre plots.

Date a guy who reads. He will give you genuine attention when you talk about Kafka or Camus. He appreciates moment of silence in between the talks because as reading needs time to process, so is a conversation. To him, silence is not a sign of awkwardness; it is a sign of compassion.

Date a guy who reads. He might be not as stylish as any other guys you’ve met, and probably wears thick glasses; but he spends his money well, on books. He will ask you to go on a date to a bookstore, and probably will leave you wandering around by yourself because he’s busy paying attention to the books; but you will see his true-self there. What books catch his attention, what magazine he doesn’t like.

Date a guy who reads. He doesn’t mind giving you personal space, because he understands that lone-time is not a lonely time, just as he immerses himself when reading a book. He is also okay with agree to disagree, because from all the books he read, he possesses vast knowledge about things and he knows how to deal with differences.

Date a guy who reads. He will listen to what you say till the end before making any comments, just as he passionately reads the whole book before deciding it is good or not. He will test you with some surprising things or actions just to see how you will react, because a nice beginning doesn’t always guarantee the same ending.

He reads people like a book. And he accepts the girl she likes as is, because what’s written has already been written and he decides to follow the plot."

--Date a guy who reads; Citraningrum.

- - - - - - - -

But please, before you date with a guy or a girl who reads someday, make sure you keep it Halal and get married first!

;p

Thursday, April 30, 2015

Hujan April.

Bismillah..

April bakal berakhir bagi tahun ini. Setiap tahun, bulan April adalah bulan yang paling saya tunggu-tunggu kedatangannya selepas Ramadhan. Kedatangan April setiap tahun mesti saya sambut dengan kegembiraan, kerana itulah petanda saya mula mendewasa. Dan di dalam bulan April, tarikh 11 April adalah tarikh kegemaran saya, sebab itu adalah hari di mana saya dilahirkan. Saya pasti, setiap daripada kita pasti tertunggu-tunggu tarikh lahir kita tiba juga. 

Saya mengenang banyak hal setiap kali tiba 11 April. Hampir setiap tahun apabila tarikh itu tiba, saya mula menyelak-nyelak album gambar lama saya dan catatan-catatan lama saya.

Saya suka melihat semula gambar saya sewaktu kecil apabila tarikh lahir saya tiba. Kata Gibran, "Periksalah buku kenanganmu semalam, dan engkau akan tahu bahwa engkau masih berhutang kepada manusia dan kehidupan."

Itulah sebabnya. Setiap kali saya melihat gambar-gambar lama, catatan-catatan lama milik saya, saya pasti akan terkenang watak-watak yang pernah mewarnai dunia saya. Dari kecil hinggalah sekarang. Ibu, ayah, adik-adik, keluarga lain, sahabat-sahabat, guru-guru mahupun para 'strangers'. Terima kasih, itulah hanya mampu saya ucapkan. Kerana ada antara mereka yang banyak berjasa kepada saya, ada bersama saya saat suka duka, jatuh bangun dan sebagainya. Dan tentulah saya harus berterima kasih kepada Tuhan, demi nyawaku yang ada dalam genggamanNya, atas nikmat hidup duniawi mahupun ukhrawi nanti.

-  -  -  -  -  -

Saya perhatikan, bulan April tahun ini adalah bulan yang paling kerap turunnya hujan. Januari memang musim hujan lebat, namun apabila tibanya Februari dan Mac, maka hujan turun amat jarang. Tetapi apabila tiba sahaja April, hujan turun begitu kerap. Waktu pagi dan malam. Seperti yang saya katakan tadi, saya mengenang banyak hal pabila April tiba, ditambah lagi dengan hujan, maka semakin banyak perasaan yang bercampur baur. Gembira, terharu dan rindu. Saya gembira saya semakin mendewasa. Saya terharu kerana banyak 'berhutang' kepada Tuhan, manusia dan kehidupan ini bak kata Gibran. Tetapi kadang-kadang saya rindukan momen-momen lalu. Terutama sekali pada zaman kanak-kanak, ahh memang indah.

"Kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan turun?
Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya."
--Tere Liye

Dan hujan yang turun pada bulan April adalah hujan rindu. Ia telah terlalu lama dalam kandungan awan. Maka tibanya April, hujan itu melepaskan kerinduannya untuk menyentuh lembut tanah dan bumi. 

Hujan April juga adalah hujan yang akan menyebabkan permulaan bagi musim bunga-bungaan. Jesteru, jadilah seperti Hujan April, jatuhnya bersama Rahmat Ilahi, menebarkan keindahan lewat cinta Tuhan.

Selamat mendewasa wahai diri. Jalan kehidupan masih panjang. Walaupun kau tahu bahawa hidup ini sesingkat cuma, tapi perjalanan kita 'ke sana' itu memang panjang juga hakikatnya. 

Selamat tinggal, April. Moga pertambahan umur, adalah pertambahan iman, dan mematangkan kita sebagai manusia kesayangan Tuhan, InsyaAllah.

Wednesday, March 25, 2015

Ada Di Langit.

Bismillah.

Saya amat terkesan membaca seperenggan ayat yang dinukilkan oleh seorang kakak yang banyak memberi pengajaran kepada saya meskipun baru sekali bertemu dengannya, tapi dia, seperti dalam tulisan-tulisannya, tetap menyebarkan cinta sehangat mentari, yang hanya memberi tak mengharap kembali. Seperenggan ayat itu begini bunyinya;

                                                                         
Tidak penting sebenarnya untuk menjadi orang-orang yang penting di alam maya ini, yang disukai atau yang diminati ramai. Namun cukuplah jika suatu hari nanti, andai kita sudah tidak wujud di sini, ada yang mendengar  dan membaca nama kita di mana-mana, lantas mereka berkata;

'Saya merindui manusia ini.'
                                                                  
                                                       sumber: Matahary

Ya. Moga satu hari nanti kita menjadi manusia-manusia yang dirindui oleh orang lain. Seperti kata Saidina Ali R.A:

"Jadilah kamu orang yang baik,
bila ada disukai
bila tiada dirindui
bila mati ditangisi

Janganlah kamu jadi orang yang jahat,
bila ada dibenci
bila tiada disukai
bila mati disyukuri"

- - - - - - -

Dan moga pada satu hari nanti juga, apabila orang menyebut nama kita, lalu ada yang berkata,

"Saya tidak mengenali orang ini. Siapa dia?"

Tapi Malaikat pula akan berkata sebaliknya,

"Saya kenal manusia ini. Namanya sering kedengaran di langit-langit."

Seperti Uwais Al-Qarni barangkali, InsyaAllah.


- - - - - -


Kita juga sering lupa, kita selalu meminta orang lain mendoakan kebahgiaan kita, dipermudahkan urusan kita atau sebagainya. Tapi kita lupa untuk berusaha 'mendapatkan' orang-orang yang akan mendoakan kita setelah kita tiada kelak. Atau juga kita sendiri perlu mendoakan diri kita, supaya di kurniakan orang-orang yang akan mendoakan kita setelah kita tiada lagi di dunia ini. Seorang sahabat mengajarkan doa ini kepada saya;

Hib lana Ya Rabb, man yad'u lana ba'da mautina.
Kurniakan Ya Rabb, orang yang akan mendoakan kami setelah kami mati.



- - - - - - -

Sebenarnya, tajuk bagi tulisan kali ini saya ambil dari salah satu judul tulisan Kurniawan Gunadi, Ada Di Langit. Menarik bahasa dan maknanya!




Aku tinggal dibumi. Tapi, carilah aku di langit. Sebab aku tertahan diantara bintang-bintang. Kau jemput aku dengan doa-doa setelah shalatmu. Kau tengadahkan tanganmu atau bersujud, berdoalah untuk memintaku. Aku tertahan dan garis batas yang membentang diantara kita selebar langit dan bumi. 

Aku tinggal di bumi, tapi carilah aku dilangit. Di sepertiga malammu saat Tuhan turun ke langit bumi. Mintalah aku yang berada di genggaman tangan-Nya. Percuma mencariku di bumi, sebab kunci itu ada d langit. Kunci yang akan menghapus garis batas diantara kita. Mengubah garis yang tadinya neraka, menjadi surga.

Aku berada di tempat yang tidak bisa kau temui di bumi. Tapi kau bisa menemuiku di langit, meski bukan wujud kita yang bertemu. Melainkan doa-doa kita yang menggetarkan singgasana-Nya. Temukan aku di langit, didalam doa-doa panjangmu. Didalam harapanmu.

Meski kita tidak saling tahu nama, tidak saling tahu rupa. Jemputlah aku dilangit. Sebab aku tahu, kau mengenalku bukan karena nama dan rupa. Doa kita telah bertemu sebelum fisik kita.

Mudah bagi-Nya membuat kita kemudian bertemu. Tidak hanya bertemu namun juga disatukan. Sebagaimana doa-doa yang sebelumnya telah kita panjatkan.

Pertemuan kita yang pertama berada di langit, kan? Sekarang kau tahu, mengapa aku memintamu mencariku di langit?

--Ada Di Langit, Kurniawan Gunadi.

p/s: Maaf, tulisan malam ini agak berterabur. Sebenarnya saya sudah lama ingin menulis berkenaan ini. Cuma kuota broadband saya mula berkurangan, maka tulisan ini saya tangguh sehinggalah malam ini ia diterbitkan. Alhamdulillah, kuota broadband saya sudah 'berisi' semula.

:)


Tuesday, March 10, 2015

Terhadap Rasa Yang Asing.



Entah mengapa, rasa-rasa yang tak kutahu puncanya terus-terusan menyinggah. Seperti terjaga di tengah malam, lalu tidak dapat terlelap semula, maka pada saat itulah 'rasa' itu hadir. 

Pernah bukan kita merindui sesuatu yang tak kita ketahui siapa orangnya atau kita merindui momen-momen lalu?

Pernah bukan kita merasakan kehilangan sesuatu yang kita sendiri pun tidak tahu apa barang yang hilang itu?

Perasaan sedih tanpa sebab dan sebagainya?

Seperti itulah yang sering berlaku. Dan selalunya terjadi pada waktu malam. Sepertinya malam sedang menyanyikan lagu-lagu atau puisi-puisi yang melankolik yang menggoda kita untuk terjaga lalu menghayati setiap larik-larik 'sajak' yang dibacakan oleh bulan dan bintang-bintang.

Anehnya, perkara itu tak pernah berlaku sewaktu dahulu. Cuma hadir pada ketika kita mulai meningkat dewasa.

Berbeza sekali sewaktu kita masih kecil, apabila terjaga dari tidur, kita hanya merengek inginkan sebotol susu atau hangat pelukan ayah ibu. 

Kini setelah menginjak dewasa, sebotol susu diganti dengan secawan kopi pekat. 

Setelah menginjak dewasa, hangat pelukan  ibu ayah pun tidak ada, bukan kerana mereka telah pergi (kepada yang telah pergi, doa-doa anak soleh/solehah lah yang mengiringi), tetapi rasa malu mungkin kerana sudah bergelar dewasalah yang menyebabkan hal-hal semacam itu kita jarang lakukan. 

Seperti lirik lagu Lafaz Yang Tersimpan, begitulah kita, anak-anak yang kadang terlupa dan terleka.

Setelah membesar ini, apabila terjaga pada waktu malam, rasa yang dahulu diganti dengan rasa yang baharu. Ketika itulah baru terasa bahawa kita semakin berubah rupanya. Rasa yang kadangkala asing terhadap diri kita sendiri. 

Ataukah ini juga salah satu dari 'kesan-kesan sampingan' ketika mendewasa?

Pabila kau rindukan restu
yang tak dapat kau namai,
dan pabila kau menangis sendu
tanpa sebab yang kauketahui,
maka sesungguhnya engkau sedang tumbuh
bersama segala yang tumbuh,
bangkit menggapai
pribadi lebih luhur.
_Gibran, Pasir dan Buih, ms/16

Mungkin sebab itu jugalah, dalam Islam, apabila terjaga diwaktu malam, dianjurkan untuk mendirikan solat malam, ketika itu kita sendiri, menangis sendu dihadapan Rabbi. Meluahkan segalanya pada Tuhan, supaya tenang dan tenteram. 

Hubungan kita padaNya mesti diperkuatkan lagi, agar rasa-rasa asing seperti merindui, ingin mencintai, ingin dicintai dan disayangi tertuju kepada yang sepatutnya.

"Dan pada sebahagian malam hari, kerjakanlah solat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji."-Al-Israa, 79.

"Dan pada sebahagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bahagian yang panjang dimalam hari."- Al-Insaan, 26.

"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri."-At Thur, 48.